Friday, December 23, 2011

Remember When

Posted by adena riskivia trinanda at 3:26 AM
oke, share cerpen kakak gue lagi yah. Orang-orang sih pada nangis ngebeaca cerpen kakak gue yang satu ini, tapi kalo gue sih NGGAK muahahahaha. Selamat menangis yah HAHA~

Remember When
Original story by Firdausi

Gadis itu masih sama seperti hari-hari sebelumnya; duduk di atas kursi rodanya memandang keluar jendela transparan yang lebar sebagai pengganti dinding. Tatapannya kosong, entah memandang ke mana. Kurasa jiwanya sedang berputar-putar dalam halusinasinya. Rambutnya yang panjang semakin tak terawat, benar-benar kusam. Tapi dia lah wanita yang kucintai.
Aku menutup pintu kamarnya setelah lama terpaku menatapnya dengan perasaan yang campur aduk. Kuusahakan untuk tersenyum meski aku yakin ia tidak akan melihatnya. Perlahan aku berjalan menuju ke arahnya. Aku duduk dengan bertumpu pada lutut di sampingnya. Tanganku merengkuh tangannya yang tak bergerak di pegangan kursi rodanya. Ia menoleh padaku, masih dengan mata yang sama dan tanpa ekspresi. Hatiku begitu sakit, seakan-akan ribuan paku ditancapkan hingga menembus tubuhku. Meski begitu, aku berusaha tetap tersenyum.
“Selamat siang, Eve. Kau baik-baik saja hari ini?”
Tak ada jawaban darinya. Aku semakin menggenggam erat tangannya seraya berusaha tidak memudarkan senyum meski aku ingin menangis.
“Aku ingin bercerita padamu lagi. Maaf, jika mengganggu. Tapi aku berharap kau ingat….”
Aku mulai memenuhi ruangan itu dengan suaraku.
*****

Kau ingat? Kita bertemu tiga tahun yang lalu. Kita bertemu di sebuah café yang tak jauh dari sekolahku. Saat itu temanku memaksaku untuk ikut dengannya, bertemu gadis yang ia kenal dari jejaring sosial. Dia tidak berani datang sendiri hingga membawaku secara paksa untuk menemaninya. Aku benar-benar kesal padanya. Padahal ia bilang hanya minta temani ke toko buku untuk membeli komik yang terbit hari itu. Tapi dia menipuku! Yah, meski begitu, pada akhirnya aku harus berterima kasih padanya, karena tanpa dirinya yang membawaku paksa pada pertemuan kopi darat itu, aku tidak akan pernah mengenalmu.
Aku duduk di sampingnya tanpa bicara apa pun sembari melipat tangan. Sepertinya ia senang sekali bertemu dengan gadis yang ia kenal di jejaring sosial meski sedikit merasa canggung. Sesekali ia membawaku dalam percakapan mereka. Berkali-kali aku berdecak kesal. Lalu mataku tanpa sengaja melihatmu yang duduk di sebelah gadis itu.
Kau juga sepertinya tak peduli dengan masa pendekatan pasangan di sebelahmu. Kau hanya peduli dengan segelas es krim yang dihiasi berbagai macam buah. Lahap sekali kau memakan es krim itu sesendok demi sesendok. Kau bahkan tidak peduli seberapa berantakannya wajahmu saat itu. Rambutmu juga menjadi korban dari “kerakusan”-mu, kotor karena tanpa sengaja menyentuh es krim yang sudah habis separuhnya itu. Aku… benar-benar terpaku padamu saat itu. Bukan karena terpesona, hanya saja baru kali ini aku bertemu gadis cantik yang makan es krim dengan tidak anggun sepertimu.
*****

Kukira aku tak akan pernah melihatmu lagi. Tapi Tuhan berkata lain dan Ia kembali mempertemukan kita.
Aku baru pulang sekolah waktu itu. Karena ada komik favoritku diterbitkan semalam, bergegas kakiku melangkah memasuki toko buku dan tanpa basa-basi, aku mendatangi deretan komik-komik terbaru. Di saat itu, aku bertemu denganmu. Ah, lebih tepatnya aku menemukanmu.
Kau berjalan perlahan sambil mengamati satu per satu judul buku di bagian komik-komik pula. Kurasa kau juga baru pulang sekolah karena kulihat yang melekat pada dirimu saat itu adalah baju putih abu-abu. Jari telunjukmu mengetuk-ngetuk bibirmu yang tipis dengan tempo yang sama. Lalu matamu terbelalak dengan senyum lebar di wajahmu. Tanganmu dengan cepat mengambil satu komik yang aku sendiri tidak tahu apa. Sepertinya kau senang sekali.
Aku tersadar kembali dan mengalihkan perhatianku darimu. Jujur saja, aku sendiri tidak mengerti entah kenapa begitu tertarik melihat dirimu saat itu. Tapi segera kubuang jauh-jauh pikiranku dan mulai memokusan mata pada huruf-huruf yang tertera di setiap buku yang berderet di dalam rak.
Tapi suara brak yang nyaring kembali mengalihkan perhatianku. Sumber suara itu berasal dari kolom rak buku di depanku, tempatmu berada. Dan benar saja, saat aku menengok ke sana, kau sedang gelagapan membereskan buku-buku yang jatuh karenamu, mungkin. Wajahmu sedikit memerah, kurasa kau menanggung rasa malu yang cukup besar. Karena kebaikanku saat itu, aku tanpa pikir panjang ikut memunguti buku-buku yang berserakan.
“Terima kasih,” ucapmu dengan suara yang hampir pecah. Keringat mengucur di dahimu. Kau sepertinya benar-benar gugup, ya, waktu itu.
“Yaaahh, nggak masalah,” jawabku.
Kau hanya tersenyum lalu kembali berkutat pada buku-buku di rak. Tanganmu membawa tas toko buku. Kelihatannya cukup berat. Kau memang membeli banyak buku tapi aku tidak tahu apa saja yang kau beli itu.
“Banyak juga yang kau beli,” komentarku. Kau hanya menggumam kecil. “Ngomong-ngomong, gimana hubungan temanmu itu dengan temanku?”
Akhirnya kau memandangku. Tapi dari kerutan di dahimu, sepertinya kau sendiri bingung.
“Maaf, apa kita saling kenal?” pertanyaan itu membuatku berpikir kalau kau orang yang benar-benar cuek.
“Entah ingatanmu yang rendah atau memang kau nggak punya niat lihat sekitarmu, tapi kita pernah ketemu,” ujarku. Sepertinya saat itu kau kesal dengan perkataanku yang cukup tidak sopan, tapi kau diam saja, hanya menggumam, mempertanyakan sekali lagi. “Di café saat temanmu bertemu dengan temanku. Kau asyik sendiri dengan es krim di depanmu.”
“Oh… kau ada juga di sana, ya. Maaf. Evelin, biasa dipanggil Eve,” kau mengulurkan tangan.
“Ya, nggak masalah. Giovani, panggil saja Gie,” aku menyambut uluran tanganmu.
Dan dari situ lah kita mulai dekat.
*****

Saat kusadari aku telah bercerita cukup panjang, kulirik wajah gadis yang duduk di kursi roda tadi. Matanya tertutup. Pada saat itu juga kekhawatiran menghembus, menggelitik hatiku. Tapi gerakan jarinya yang masih dalam genggamanku, menjauhkan rasa khawatir itu. Tanpa sadar aku menghela napas lega.
Aku beranjak dan mengambil tempat berdiri di depannya, menghalangi cahaya matahari sore menyinari wajahnya yang begitu tenang. Kuelus sekali rambutnya yang kusut lalu mengangkatnya dari kursi roda dan membaringkannya di atas tempat tidur. Semakin hari kurasakan berat badannya semakin berkurang dari seberapa ringannya ia bisa kuangkat. Tubuhnya yang kurus itu kubalut dengan selimut. Sekali lagi aku mengelus rambutnya, kemudian kukecup keningnya dengan lembut.
“Aku pulang, ya, Eve. Aku sayang kamu,” kubisikan kata itu di telinganya meski saat ini ia tidak bisa mendengar – bukan karena tuli, tapi karena ia tidur. Suaraku benar-benar pecah karena sekuat tenaga aku menahan bening-bening air jatuh dari pelupuk mata.
Pelan-pelan aku menutup pintu kamarnya setelah lama memandangi tubuh kecil yang tak berdaya itu di atas tempat tidur.
*****

“Baby let me in
You are the one, you are the one
Who can make moments last forever
The one that makes the sunshine where ever you go
Why make it harder, than it has to be
Just listen, I’ll give you love
If you’ll give me your heart”

- C21: You Are The One –

Kau ingat lagu ini? Aku yakin tidak karena demensia yang kau derita saat ini. You Are The One milik C21 ini kupakai untuk menyatakan perasaanku padamu.
Saat itu terik mentari menjadi saksi bisu momen terindah dalam hidupku. Aku ditemani dengan gitar dan dukungan sahabatku, menunggumu di gerbang sekolahmu, kemudian menyanyikan lagu itu untukmu sambil berlutut. Entah seberapa merahnya wajahku saat itu karena malu dan sorak sorai penghuni sekolahmu yang juga ingin pulang. Yang pasti saat itu urat maluku sudah kuputus lebih dulu meski tanganku masih gemetar dingin saat memetik gitar untuk mengiringi lagu yang kunyanyikan.
Aku beranikan diri untuk melirik ke arahmu. Wajahmu tak kalah merah dengan wajahku. Bahkan kau salah tingkah, kaku, tidak tahu apa yang ingin kau lakukan. Temanmu yang pada akhirnya menjadi kekasih sahabatku itu mendorong-dorong tubuhmu ringan dan mendesakmu untuk menjawab pernyataan cintaku. Aku tersenyum saat mata kita bertemu. Bahkan bibirku pun gemetar.
“Eve…,” suaraku bahkan seakan berbisik.
Kau hanya mengangguk kecil dengan senyum yang tak bisa kau hentikan lagi. Dengan malu-malu kau sedikit memalingkan wajah.
“Kalau kau memaksa.”
“Kau suka padaku?” aku ingin memastikan. Kau hanya mengangguk sekali dan kembali menyembunyikan wajah.
Betapa bahagianya aku hanya karena satu anggukan darimu. Aku segera bangun dan berlari ke arahmu kemudian memelukmu. Kau meronta kecil memintaku untuk melepaskanmu karena sorak sorai dan puluhan tepuk tangan yang semakin riuh menggoda kita. Tapi aku tidak bisa melepaskanmu karena bahagia. Agar kutunjukkan pada orang-orang itu bahwa kau sekarang menjadi milikku.
*****

Hari-hari yang kulalui bersamamu begitu indah. Kau adalah warna dalam hitam putih kehidupanku. Tapi meski sebahagia apa pun kita, pasti ada konflik yang mendera dalam suatu hubungan.
Aku paling ingat saat kau berhari-hari tak mau bicara padaku. Kau tak tahu seberapa depresinya aku saat itu. Kuhubungi melalui ponsel pun, kau tak mau mengangkat. Kudatangi ke sekolahmu dan menunggumu di depan gerbang. Kau tak kunjung keluar karena kau lebih memilih jalan lain selain gerbang depan. Hingga akhirnya aku nekat mendatangi rumahmu.
Orang tuamu bilang bahwa kau tidak ingin bertemu denganku. Tapi aku berusaha untuk diijinkan masuk, paling tidak sampai depan kamarmu. Orang tuamu sepertinya iba padaku – ah, mungkin kesal dan lelah melayaniku – hingga akhirnya aku diperbolehkan masuk.
Kuketuk pintu kamarmu yang penuh tempelan stiker anime – Kau memang maniak anime sepertinya.  Tapi tak ada jawaban sama sekali darimu. Padahal aku yakin kau ada di dalam. Aku tahu jika aku hanya mengetuk pintu kamarmu saja, itu akan sia-sia. Jadi kumulai untuk bicara, entah itu akan berhasil atau tidak.
“Eve, kau di dalam, kan?”
Masih tak ada jawaban darimu.
“Kau marah padaku? Kenapa? Apa aku berbuat salah padamu?” seruntun pertanyaan itu kuberikan, tapi kau masih tidak bersuara. Kau benar-benar keras kepala. “Aku sayang kamu, Eve.”
“Bohong!” akhirnya kau angkat bicara meski dengan nada yang tinggi. Samar-samar kudengar suaramu serak.
“Aku nggak pernah bohong padamu.”
“Bohong! Kau selingkuh, kan? Aku lihat kau pergi dengan cewek lain.”
“Kapan?” tanyaku bingung. Bahkan aku sendiri tak ingat pernah pergi dengan wanita lain selain dirimu.
“Minggu lalu di supermarket. Cewek itu manis. Kau pacaran saja dengannya sana, bodoh!”
Kuputar kembali memori dalam otakku. Minggu lalu aku memang pergi ke supermarket. Tapi aku tidak pernah ingat pergi dengan wanita lain. Aku menghela napas panjang. Aku tahu kau telah salah paham.
“Aku nggak mau pacaran dengannya.”
“Sudahlah, aku nggak mau tahu lagi. Gie idiot! Bodoh!”
“Dia adikku,” ujarku di sela cacianmu.
“Hah? Kau mau bohong dengan beralasan murahan seperti itu?”
“Aku nggak bohong. Makanya, buka dulu pintu kamarmu ini. Aku ingin ketemu kamu,” bujukku.
Pada akhirnya kau membukakan pintu kamarmu. Wajahmu benar-benar berantakan karena air mata. Benar dugaanku, kau menangis. Aku segera saja memeluk tubuh mungilmu itu. Sekali lagi kau meledakan tangisanmu. Sebisa mungkin aku membujukmu untuk berhenti menangis dengan mengelus-elus kepalamu lembut.
Emosimu mulai stabil kembali. Kulepaskan kau dari rangkulan. Hidungmu benar-benar merah. Aku menepuk kepalamu ringan lalu tersenyum.
“Wanita yang kau lihat itu bukan selingkuhanku. Dia benar-benar adikku,” jelasku kemudian merogoh kantong celana untuk mengambi ponsel. Kutunjukan fotoku berdua dengan adik manisku itu. “Lihat. Kalau dilihat baik-baik aku dan dia mirip, kan? Mana mungkin aku dan dia pacaran, kan?”
Kau menoleh padaku. Matamu menelisik mencari pembenaran atas kalimatku dan kurasa kau mendapatkannya. Kau kembali memelukku erat. “Aku sayang kamu,” sepenggal kalimat itu keluar dari mulutmu.
Kuingat-ingat lagi, itu pertengkaran kita yang paling konyol. Kau salah paham hingga membuatku depresi. Aku selalu tertawa setiap kali mengingat hari itu.
*****

Tubuh gadis itu kini terbaring di tempat tidur. Bahkan untuk duduk di kursi roda pun ia tak punya tenaga lagi. Wajahnya semakin hari semakin pucat dan tirus. Tubuhnya benar-benar tak terawat. Kulit yang dulunya begitu mulus kini terasa kasar.
Aku duduk di sampingnya sambil terus menggenggam tangannya yang semakin hari semakin kecil. Suara indah personil C21 masih melantun melaui mp3 player yang kuletakan di samping telinganya. Agar ia ingat kenangan indah itu, agar ia mengingatku.

“I’m a circle incomplete
I’m a heart that barely beats
All the memory stay forever like tattoos
I’m a star without a sky
I’m hello with no goodbye
I’m the dreams we had that never will come true
That’s me with no you”

         - Bowling For Soup: Me with no you -

Playlist memutar lagu selanjutnya, membuatku sadar bahwa saat ini aku benar-benar rapuh. Satu-satunya penyemangatku adalah dia yang tak kalah rapuhnya dariku. Kupandangi wajah gadis di sampingku sembari kuelus-elus rambut kusamnya dengan lembut. Berkali-kali aku mengecup keningnya ringan. Tanpa sadar air mataku jatuh mengenai pipinya. Memoriku kembali ke masa itu.
*****

Seburuk-buruknya masalah yang mendera kita, berita tentang penyakitmu yang paling buruk.
Awalnya kau menunjukkan perubahan sikap. Kau yang selama ini ceria bagai matahari itu tiba-tiba saja murung seakan ada sesuatu yang menutupi cahayamu. Kau lebih senang menyendiri daripada berkumpul dengan teman-temanmu. Bahkan denganku pun kau tak ingin bertemu. Kau lebih sering menentang kedua orang tuamu. Padahal aku tahu kau adalah anak baik yang selalu membanggakan orang tuamu di setiap percakapan yang kita buat.
Kadang kau berteriak sendiri, menyudut di ujung dinding. Setiap kali ditanya, kau hanya kembali mengeluarkan lengkinganmu sambil menunjuk pada tempat yang tak ada apa-apanya. Tatapan matamu yang membelalak itu seakan-akan kau takut pada sesuatu. Tapi apa? Kau sendiri tak bicara bahkan padaku.
Tapi sikap itu hanya kadang-kadang saja kau tunjukan. Psikismu seakan sedang labil. Entah ada masalah apa yang menimpamu, kau pun tak bicara apa pun. Kutanya temanmu, kau sama sekali tak punya masalah yang bisa membuatmu begitu labil di sekolah. Mereka bilang kau berubah sikap tanpa alasan.
Orang tuamu kadang-kadang membawamu ke psikolog. Tapi tetap saja tak ada hasil karena kau tak bicara. Bahkan kau bilang bahwa kau tak pernah bersikap seperti itu.
Belum selesai dengan masalah psikis-mu yang mulai hancur itu, kau semakin hari semakin ceroboh saja. Tidak ada batu, tidak ada sesuatu yang bisa membuatmu hilang keseimbangan, kau jatuh begitu saja.
Lalu suatu hari aku sedang bercanda denganmu. Aku mengambil topi yang kau pakai dengan usil dan menjauhkan darimu. Kau berusaha menggapainya, tapi tak bisa. Melihat pipimu yang mulai menggembung, aku tahu kau kesal. Jadi kubiarkan kau agar bisa mengambilnya. Tapi kulihat tanganmu tak kunjung mengambil topimu. Kau seperti sengaja menggerakkan tanganmu ke kiri atau ke kanan topi.
“Jangan bercanda, Eve…,” ujarku. Tapi wajahmu tak menunjukkan bahwa kau sedang bercanda.
“Aku… bukan sedang bercanda, Gie. Kenapa…” kau sendiri heran dan masih berusaha mengambil topi di tanganku yang berada di depanmu.
Seandainya itu hanya bercanda, aku pasti akan tertawa lebar. Tapi kerutan di dahimu yang dalam dan rasa takut yang tergambar jelas di wajahmu itu membuktikan bahwa kau tidak sedang bercanda. Lagipula kau bukan aktor yang baik untuk berbohong.
Aku menyerahkan topi itu padamu. Tanganmu gemetar dahsyat. Aku segera merengkuhnya dan menggenggam tanganmu dengan erat. Aku bisa merasakan ketakutanmu saat itu. Kau menangis dalam diam, dalam pelukanku.
*****

Ataksia. Begitu dokter bilang. Penyakit yang menyerang sistem syaraf hingga keseimbanganmu semakin berkurang. Penyakit berbahaya yang banyak merenggut nyawa orang. Mendengar kau mengidap penyakit itu, aku seakan dipukul dengan ribuan ton besi. Tapi aku tahu, bahwa kau lebih menderita daripada aku. Kau yang menanggung semua kesakitan itu.
Tapi pada akhirnya, ataksia bukan masalah utamamu. Semua diketahui saat kau mengalami demensia yang cepat. Demensia merupakan bahasa kedokteran untuk daya ingatan yang turun. Bahkan kau bertanya padaku, “Kau siapa?”
Kau tahu? Betapa sakitnya hatiku ketika tahu kau begitu mudahnya melupakan aku. Betapa hancurnya aku saat pertanyaan itu meluncur dari mulutmu. Betapa seringnya aku dijatuhkan dalam jurang yang dalam karena tatapan matamu yang merasa asing padaku. Tapi seberapa pun sakitnya aku, kau masih lebih sakit. Melupakan orang yang kau cintai adalah hal yang paling menyakitkan meski kau sendiri tak merasakannya, aku tahu itu. Jadi aku berusaha untuk bangkit  dan tetap tersenyum untuk menjadi penopangmu meski kau tak kenal padaku lagi.
Creutzfeldt-Jakob, nama penyakitmu yang sebenarnya. Perubahan sikap, halusinasi, dan ataksia hanya awal dari penyakit mematikan yang kau derita. Penyakit yang disebabkan oleh prion;  penyebab penyakit yang hanya terdiri dari protein yang menyerang sistem syaraf pusat. Dokter bilang penyakit ini jarang sekali ditemukan bahkan perbandingannya 1:1000.000 dan dulu hanya menjangkiti orang tua. Tapi sekarang beda. Penyakit ini juga bisa menyerang anak muda sepertimu.
Tapi dari jutaan manusia itu, kenapa harus kau yang menderita karena penyakit ini. Kenapa harus kau yang merasakan sakit. Orang bilang Tuhan memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengatasinya. Lalu apa kau cukup tangguh untuk melawan penyakitmu? Apa kau sanggup menanggungnya dengan tubuh mungilmu? Seandainya aku bisa, aku ingin sekali menggantikanmu.
*****

Kali ini air mataku benar-benar tak terbendung. Memutar memori pada hari-hari menyakitkan dan sepi itu membuatku menjadi laki-laki tak berdaya. Aku semakin erat menggenggam tangannya, semakin sering mengelus rambutnya dan berkali-kali membisikannya kata cinta, berharap ia bangun dengan hal itu.
Dokter bilang dia hanya bisa bertahan empat bulan. Tapi satu setengah tahun sudah berlalu dan jiwanya masih menyangkut pada raganya. Dokter itu salah dan kurasa Tuhan memang memberikan cobaan pada orang yang tepat. Meski dengan tubuh kecilnya itu, ia bisa bertahan selama ini. Maka dari itu, aku menunggu keajaiban saat ia membuka mata dan berkata, “Aku sayang kamu, Gie.”
“Eve, bangunlah.  Ayo kita ke taman bermain lagi. Aku janji nggak akan mengajakmu ke rumah hantu lagi. Aku tahu, kau nggak suka,” bisikku dalam isak tangis. “Eve…”
Kurasakan jemarinya bergerak menggenggam tanganku. Aku melirik melihat wajahnya. Napasnya terdengar berat dan pendek. Aku berharap ia segera membuka mata.
“Eve… Eve…. Eve, bangun, Eve…”
Pada akhirnya semakin lama napasnya semakin ringan hingga kurasakan tak ada udara yang keluar dari paru-parunya. Tangannya yang menggenggam tanganku perlahan mulai lepas dan lunglai. Kulihat setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya tapi sebuah senyum kecil terpampang di wajahnya.  Ia tidur dan tak mungkin untuk membuka mata lagi.
Air mataku semakin tak terbendung.  Aku masih menggenggam tangannya yang tanpa denyut nadi itu dengan erat. Aku diam, hanya tenggelam daam kesedihanku. Kali ini aku benar-benar jatuh karena satu sayapku telah lenyap.
Eve, apa kau begitu menderitanya hingga memilih untuk meninggalkanku sendirian di sini? Apa kau sekarang bahagia? Kurasa ya dari senyum yang tersungging di wajahmu untuk terakhir kalinya. Kalau memang begitu, aku merelakanmu. Selamat tinggal, Eve. I always love you until I die.
*****

- Epilog -
Aku merasa asing. Bahkan dengan orang di sekitarku pun aku tak kenal. Mereka bilang aku hilang ingatan karena penyakit yang kuidap. Penyakit itu membuat daya ingatku semakin lama semakin menurun hingga aku melupakan segalanya. Entah mereka bohong atau tidak, tapi mereka merawatku dengan penuh kasih sayang.
Lalu lambat laun tempatku semakin berubah tak nyata. Aku jatuh dalam halusinasiku semakin dalam hingga pada akhirnya aku hanya diam saja menerima dunia halusinasi itu. Bahkan aku tak mengerti mana yang nyata dan mana ilusiku. Tapi satu hal yang kutahu, suara yang selalu mendongengkanku tentang masa lalu adalah sesuatu yang paling nyata di duniaku.
Suara laki-laki itu begitu indah saat menceritakan masa lalunya bersamaku. Kadang terdengar begitu senang tapi kadang aku bisa merasakan kesedihannya dari suara yang kadang berubah lirih.
Lalu pada saat akhirnya aku sama sekali tak bisa bergerak dari tempat tidur, aku mendengar suara tangisnya. Lirih seakan-akan jika tidak kuraih, ia akan hancur. Jadi kuusahakan menggenggam tangannya. Aku jatuh cinta padanya di akhir hidupku. Mungkin untuk kedua kalinya. Kuharap ia tidak akan hancur karena aku telah meraih tangannya, berusaha membuatnya tetap berdiri tegap.
Kuucapkan untuk terakhirnya meski kau tak mendengar. “Aku sayang kamu…, Gie.”

“Goodbye sun shine
Take care of yourself
I have to go, I have to go
And leave you alone
But always know, always know
That I love you so”

         - Avril Lavigne: Goodbye -

0 comments:

Post a Comment

Friday, December 23, 2011

Remember When

Posted by adena riskivia trinanda at 3:26 AM
oke, share cerpen kakak gue lagi yah. Orang-orang sih pada nangis ngebeaca cerpen kakak gue yang satu ini, tapi kalo gue sih NGGAK muahahahaha. Selamat menangis yah HAHA~

Remember When
Original story by Firdausi

Gadis itu masih sama seperti hari-hari sebelumnya; duduk di atas kursi rodanya memandang keluar jendela transparan yang lebar sebagai pengganti dinding. Tatapannya kosong, entah memandang ke mana. Kurasa jiwanya sedang berputar-putar dalam halusinasinya. Rambutnya yang panjang semakin tak terawat, benar-benar kusam. Tapi dia lah wanita yang kucintai.
Aku menutup pintu kamarnya setelah lama terpaku menatapnya dengan perasaan yang campur aduk. Kuusahakan untuk tersenyum meski aku yakin ia tidak akan melihatnya. Perlahan aku berjalan menuju ke arahnya. Aku duduk dengan bertumpu pada lutut di sampingnya. Tanganku merengkuh tangannya yang tak bergerak di pegangan kursi rodanya. Ia menoleh padaku, masih dengan mata yang sama dan tanpa ekspresi. Hatiku begitu sakit, seakan-akan ribuan paku ditancapkan hingga menembus tubuhku. Meski begitu, aku berusaha tetap tersenyum.
“Selamat siang, Eve. Kau baik-baik saja hari ini?”
Tak ada jawaban darinya. Aku semakin menggenggam erat tangannya seraya berusaha tidak memudarkan senyum meski aku ingin menangis.
“Aku ingin bercerita padamu lagi. Maaf, jika mengganggu. Tapi aku berharap kau ingat….”
Aku mulai memenuhi ruangan itu dengan suaraku.
*****

Kau ingat? Kita bertemu tiga tahun yang lalu. Kita bertemu di sebuah café yang tak jauh dari sekolahku. Saat itu temanku memaksaku untuk ikut dengannya, bertemu gadis yang ia kenal dari jejaring sosial. Dia tidak berani datang sendiri hingga membawaku secara paksa untuk menemaninya. Aku benar-benar kesal padanya. Padahal ia bilang hanya minta temani ke toko buku untuk membeli komik yang terbit hari itu. Tapi dia menipuku! Yah, meski begitu, pada akhirnya aku harus berterima kasih padanya, karena tanpa dirinya yang membawaku paksa pada pertemuan kopi darat itu, aku tidak akan pernah mengenalmu.
Aku duduk di sampingnya tanpa bicara apa pun sembari melipat tangan. Sepertinya ia senang sekali bertemu dengan gadis yang ia kenal di jejaring sosial meski sedikit merasa canggung. Sesekali ia membawaku dalam percakapan mereka. Berkali-kali aku berdecak kesal. Lalu mataku tanpa sengaja melihatmu yang duduk di sebelah gadis itu.
Kau juga sepertinya tak peduli dengan masa pendekatan pasangan di sebelahmu. Kau hanya peduli dengan segelas es krim yang dihiasi berbagai macam buah. Lahap sekali kau memakan es krim itu sesendok demi sesendok. Kau bahkan tidak peduli seberapa berantakannya wajahmu saat itu. Rambutmu juga menjadi korban dari “kerakusan”-mu, kotor karena tanpa sengaja menyentuh es krim yang sudah habis separuhnya itu. Aku… benar-benar terpaku padamu saat itu. Bukan karena terpesona, hanya saja baru kali ini aku bertemu gadis cantik yang makan es krim dengan tidak anggun sepertimu.
*****

Kukira aku tak akan pernah melihatmu lagi. Tapi Tuhan berkata lain dan Ia kembali mempertemukan kita.
Aku baru pulang sekolah waktu itu. Karena ada komik favoritku diterbitkan semalam, bergegas kakiku melangkah memasuki toko buku dan tanpa basa-basi, aku mendatangi deretan komik-komik terbaru. Di saat itu, aku bertemu denganmu. Ah, lebih tepatnya aku menemukanmu.
Kau berjalan perlahan sambil mengamati satu per satu judul buku di bagian komik-komik pula. Kurasa kau juga baru pulang sekolah karena kulihat yang melekat pada dirimu saat itu adalah baju putih abu-abu. Jari telunjukmu mengetuk-ngetuk bibirmu yang tipis dengan tempo yang sama. Lalu matamu terbelalak dengan senyum lebar di wajahmu. Tanganmu dengan cepat mengambil satu komik yang aku sendiri tidak tahu apa. Sepertinya kau senang sekali.
Aku tersadar kembali dan mengalihkan perhatianku darimu. Jujur saja, aku sendiri tidak mengerti entah kenapa begitu tertarik melihat dirimu saat itu. Tapi segera kubuang jauh-jauh pikiranku dan mulai memokusan mata pada huruf-huruf yang tertera di setiap buku yang berderet di dalam rak.
Tapi suara brak yang nyaring kembali mengalihkan perhatianku. Sumber suara itu berasal dari kolom rak buku di depanku, tempatmu berada. Dan benar saja, saat aku menengok ke sana, kau sedang gelagapan membereskan buku-buku yang jatuh karenamu, mungkin. Wajahmu sedikit memerah, kurasa kau menanggung rasa malu yang cukup besar. Karena kebaikanku saat itu, aku tanpa pikir panjang ikut memunguti buku-buku yang berserakan.
“Terima kasih,” ucapmu dengan suara yang hampir pecah. Keringat mengucur di dahimu. Kau sepertinya benar-benar gugup, ya, waktu itu.
“Yaaahh, nggak masalah,” jawabku.
Kau hanya tersenyum lalu kembali berkutat pada buku-buku di rak. Tanganmu membawa tas toko buku. Kelihatannya cukup berat. Kau memang membeli banyak buku tapi aku tidak tahu apa saja yang kau beli itu.
“Banyak juga yang kau beli,” komentarku. Kau hanya menggumam kecil. “Ngomong-ngomong, gimana hubungan temanmu itu dengan temanku?”
Akhirnya kau memandangku. Tapi dari kerutan di dahimu, sepertinya kau sendiri bingung.
“Maaf, apa kita saling kenal?” pertanyaan itu membuatku berpikir kalau kau orang yang benar-benar cuek.
“Entah ingatanmu yang rendah atau memang kau nggak punya niat lihat sekitarmu, tapi kita pernah ketemu,” ujarku. Sepertinya saat itu kau kesal dengan perkataanku yang cukup tidak sopan, tapi kau diam saja, hanya menggumam, mempertanyakan sekali lagi. “Di café saat temanmu bertemu dengan temanku. Kau asyik sendiri dengan es krim di depanmu.”
“Oh… kau ada juga di sana, ya. Maaf. Evelin, biasa dipanggil Eve,” kau mengulurkan tangan.
“Ya, nggak masalah. Giovani, panggil saja Gie,” aku menyambut uluran tanganmu.
Dan dari situ lah kita mulai dekat.
*****

Saat kusadari aku telah bercerita cukup panjang, kulirik wajah gadis yang duduk di kursi roda tadi. Matanya tertutup. Pada saat itu juga kekhawatiran menghembus, menggelitik hatiku. Tapi gerakan jarinya yang masih dalam genggamanku, menjauhkan rasa khawatir itu. Tanpa sadar aku menghela napas lega.
Aku beranjak dan mengambil tempat berdiri di depannya, menghalangi cahaya matahari sore menyinari wajahnya yang begitu tenang. Kuelus sekali rambutnya yang kusut lalu mengangkatnya dari kursi roda dan membaringkannya di atas tempat tidur. Semakin hari kurasakan berat badannya semakin berkurang dari seberapa ringannya ia bisa kuangkat. Tubuhnya yang kurus itu kubalut dengan selimut. Sekali lagi aku mengelus rambutnya, kemudian kukecup keningnya dengan lembut.
“Aku pulang, ya, Eve. Aku sayang kamu,” kubisikan kata itu di telinganya meski saat ini ia tidak bisa mendengar – bukan karena tuli, tapi karena ia tidur. Suaraku benar-benar pecah karena sekuat tenaga aku menahan bening-bening air jatuh dari pelupuk mata.
Pelan-pelan aku menutup pintu kamarnya setelah lama memandangi tubuh kecil yang tak berdaya itu di atas tempat tidur.
*****

“Baby let me in
You are the one, you are the one
Who can make moments last forever
The one that makes the sunshine where ever you go
Why make it harder, than it has to be
Just listen, I’ll give you love
If you’ll give me your heart”

- C21: You Are The One –

Kau ingat lagu ini? Aku yakin tidak karena demensia yang kau derita saat ini. You Are The One milik C21 ini kupakai untuk menyatakan perasaanku padamu.
Saat itu terik mentari menjadi saksi bisu momen terindah dalam hidupku. Aku ditemani dengan gitar dan dukungan sahabatku, menunggumu di gerbang sekolahmu, kemudian menyanyikan lagu itu untukmu sambil berlutut. Entah seberapa merahnya wajahku saat itu karena malu dan sorak sorai penghuni sekolahmu yang juga ingin pulang. Yang pasti saat itu urat maluku sudah kuputus lebih dulu meski tanganku masih gemetar dingin saat memetik gitar untuk mengiringi lagu yang kunyanyikan.
Aku beranikan diri untuk melirik ke arahmu. Wajahmu tak kalah merah dengan wajahku. Bahkan kau salah tingkah, kaku, tidak tahu apa yang ingin kau lakukan. Temanmu yang pada akhirnya menjadi kekasih sahabatku itu mendorong-dorong tubuhmu ringan dan mendesakmu untuk menjawab pernyataan cintaku. Aku tersenyum saat mata kita bertemu. Bahkan bibirku pun gemetar.
“Eve…,” suaraku bahkan seakan berbisik.
Kau hanya mengangguk kecil dengan senyum yang tak bisa kau hentikan lagi. Dengan malu-malu kau sedikit memalingkan wajah.
“Kalau kau memaksa.”
“Kau suka padaku?” aku ingin memastikan. Kau hanya mengangguk sekali dan kembali menyembunyikan wajah.
Betapa bahagianya aku hanya karena satu anggukan darimu. Aku segera bangun dan berlari ke arahmu kemudian memelukmu. Kau meronta kecil memintaku untuk melepaskanmu karena sorak sorai dan puluhan tepuk tangan yang semakin riuh menggoda kita. Tapi aku tidak bisa melepaskanmu karena bahagia. Agar kutunjukkan pada orang-orang itu bahwa kau sekarang menjadi milikku.
*****

Hari-hari yang kulalui bersamamu begitu indah. Kau adalah warna dalam hitam putih kehidupanku. Tapi meski sebahagia apa pun kita, pasti ada konflik yang mendera dalam suatu hubungan.
Aku paling ingat saat kau berhari-hari tak mau bicara padaku. Kau tak tahu seberapa depresinya aku saat itu. Kuhubungi melalui ponsel pun, kau tak mau mengangkat. Kudatangi ke sekolahmu dan menunggumu di depan gerbang. Kau tak kunjung keluar karena kau lebih memilih jalan lain selain gerbang depan. Hingga akhirnya aku nekat mendatangi rumahmu.
Orang tuamu bilang bahwa kau tidak ingin bertemu denganku. Tapi aku berusaha untuk diijinkan masuk, paling tidak sampai depan kamarmu. Orang tuamu sepertinya iba padaku – ah, mungkin kesal dan lelah melayaniku – hingga akhirnya aku diperbolehkan masuk.
Kuketuk pintu kamarmu yang penuh tempelan stiker anime – Kau memang maniak anime sepertinya.  Tapi tak ada jawaban sama sekali darimu. Padahal aku yakin kau ada di dalam. Aku tahu jika aku hanya mengetuk pintu kamarmu saja, itu akan sia-sia. Jadi kumulai untuk bicara, entah itu akan berhasil atau tidak.
“Eve, kau di dalam, kan?”
Masih tak ada jawaban darimu.
“Kau marah padaku? Kenapa? Apa aku berbuat salah padamu?” seruntun pertanyaan itu kuberikan, tapi kau masih tidak bersuara. Kau benar-benar keras kepala. “Aku sayang kamu, Eve.”
“Bohong!” akhirnya kau angkat bicara meski dengan nada yang tinggi. Samar-samar kudengar suaramu serak.
“Aku nggak pernah bohong padamu.”
“Bohong! Kau selingkuh, kan? Aku lihat kau pergi dengan cewek lain.”
“Kapan?” tanyaku bingung. Bahkan aku sendiri tak ingat pernah pergi dengan wanita lain selain dirimu.
“Minggu lalu di supermarket. Cewek itu manis. Kau pacaran saja dengannya sana, bodoh!”
Kuputar kembali memori dalam otakku. Minggu lalu aku memang pergi ke supermarket. Tapi aku tidak pernah ingat pergi dengan wanita lain. Aku menghela napas panjang. Aku tahu kau telah salah paham.
“Aku nggak mau pacaran dengannya.”
“Sudahlah, aku nggak mau tahu lagi. Gie idiot! Bodoh!”
“Dia adikku,” ujarku di sela cacianmu.
“Hah? Kau mau bohong dengan beralasan murahan seperti itu?”
“Aku nggak bohong. Makanya, buka dulu pintu kamarmu ini. Aku ingin ketemu kamu,” bujukku.
Pada akhirnya kau membukakan pintu kamarmu. Wajahmu benar-benar berantakan karena air mata. Benar dugaanku, kau menangis. Aku segera saja memeluk tubuh mungilmu itu. Sekali lagi kau meledakan tangisanmu. Sebisa mungkin aku membujukmu untuk berhenti menangis dengan mengelus-elus kepalamu lembut.
Emosimu mulai stabil kembali. Kulepaskan kau dari rangkulan. Hidungmu benar-benar merah. Aku menepuk kepalamu ringan lalu tersenyum.
“Wanita yang kau lihat itu bukan selingkuhanku. Dia benar-benar adikku,” jelasku kemudian merogoh kantong celana untuk mengambi ponsel. Kutunjukan fotoku berdua dengan adik manisku itu. “Lihat. Kalau dilihat baik-baik aku dan dia mirip, kan? Mana mungkin aku dan dia pacaran, kan?”
Kau menoleh padaku. Matamu menelisik mencari pembenaran atas kalimatku dan kurasa kau mendapatkannya. Kau kembali memelukku erat. “Aku sayang kamu,” sepenggal kalimat itu keluar dari mulutmu.
Kuingat-ingat lagi, itu pertengkaran kita yang paling konyol. Kau salah paham hingga membuatku depresi. Aku selalu tertawa setiap kali mengingat hari itu.
*****

Tubuh gadis itu kini terbaring di tempat tidur. Bahkan untuk duduk di kursi roda pun ia tak punya tenaga lagi. Wajahnya semakin hari semakin pucat dan tirus. Tubuhnya benar-benar tak terawat. Kulit yang dulunya begitu mulus kini terasa kasar.
Aku duduk di sampingnya sambil terus menggenggam tangannya yang semakin hari semakin kecil. Suara indah personil C21 masih melantun melaui mp3 player yang kuletakan di samping telinganya. Agar ia ingat kenangan indah itu, agar ia mengingatku.

“I’m a circle incomplete
I’m a heart that barely beats
All the memory stay forever like tattoos
I’m a star without a sky
I’m hello with no goodbye
I’m the dreams we had that never will come true
That’s me with no you”

         - Bowling For Soup: Me with no you -

Playlist memutar lagu selanjutnya, membuatku sadar bahwa saat ini aku benar-benar rapuh. Satu-satunya penyemangatku adalah dia yang tak kalah rapuhnya dariku. Kupandangi wajah gadis di sampingku sembari kuelus-elus rambut kusamnya dengan lembut. Berkali-kali aku mengecup keningnya ringan. Tanpa sadar air mataku jatuh mengenai pipinya. Memoriku kembali ke masa itu.
*****

Seburuk-buruknya masalah yang mendera kita, berita tentang penyakitmu yang paling buruk.
Awalnya kau menunjukkan perubahan sikap. Kau yang selama ini ceria bagai matahari itu tiba-tiba saja murung seakan ada sesuatu yang menutupi cahayamu. Kau lebih senang menyendiri daripada berkumpul dengan teman-temanmu. Bahkan denganku pun kau tak ingin bertemu. Kau lebih sering menentang kedua orang tuamu. Padahal aku tahu kau adalah anak baik yang selalu membanggakan orang tuamu di setiap percakapan yang kita buat.
Kadang kau berteriak sendiri, menyudut di ujung dinding. Setiap kali ditanya, kau hanya kembali mengeluarkan lengkinganmu sambil menunjuk pada tempat yang tak ada apa-apanya. Tatapan matamu yang membelalak itu seakan-akan kau takut pada sesuatu. Tapi apa? Kau sendiri tak bicara bahkan padaku.
Tapi sikap itu hanya kadang-kadang saja kau tunjukan. Psikismu seakan sedang labil. Entah ada masalah apa yang menimpamu, kau pun tak bicara apa pun. Kutanya temanmu, kau sama sekali tak punya masalah yang bisa membuatmu begitu labil di sekolah. Mereka bilang kau berubah sikap tanpa alasan.
Orang tuamu kadang-kadang membawamu ke psikolog. Tapi tetap saja tak ada hasil karena kau tak bicara. Bahkan kau bilang bahwa kau tak pernah bersikap seperti itu.
Belum selesai dengan masalah psikis-mu yang mulai hancur itu, kau semakin hari semakin ceroboh saja. Tidak ada batu, tidak ada sesuatu yang bisa membuatmu hilang keseimbangan, kau jatuh begitu saja.
Lalu suatu hari aku sedang bercanda denganmu. Aku mengambil topi yang kau pakai dengan usil dan menjauhkan darimu. Kau berusaha menggapainya, tapi tak bisa. Melihat pipimu yang mulai menggembung, aku tahu kau kesal. Jadi kubiarkan kau agar bisa mengambilnya. Tapi kulihat tanganmu tak kunjung mengambil topimu. Kau seperti sengaja menggerakkan tanganmu ke kiri atau ke kanan topi.
“Jangan bercanda, Eve…,” ujarku. Tapi wajahmu tak menunjukkan bahwa kau sedang bercanda.
“Aku… bukan sedang bercanda, Gie. Kenapa…” kau sendiri heran dan masih berusaha mengambil topi di tanganku yang berada di depanmu.
Seandainya itu hanya bercanda, aku pasti akan tertawa lebar. Tapi kerutan di dahimu yang dalam dan rasa takut yang tergambar jelas di wajahmu itu membuktikan bahwa kau tidak sedang bercanda. Lagipula kau bukan aktor yang baik untuk berbohong.
Aku menyerahkan topi itu padamu. Tanganmu gemetar dahsyat. Aku segera merengkuhnya dan menggenggam tanganmu dengan erat. Aku bisa merasakan ketakutanmu saat itu. Kau menangis dalam diam, dalam pelukanku.
*****

Ataksia. Begitu dokter bilang. Penyakit yang menyerang sistem syaraf hingga keseimbanganmu semakin berkurang. Penyakit berbahaya yang banyak merenggut nyawa orang. Mendengar kau mengidap penyakit itu, aku seakan dipukul dengan ribuan ton besi. Tapi aku tahu, bahwa kau lebih menderita daripada aku. Kau yang menanggung semua kesakitan itu.
Tapi pada akhirnya, ataksia bukan masalah utamamu. Semua diketahui saat kau mengalami demensia yang cepat. Demensia merupakan bahasa kedokteran untuk daya ingatan yang turun. Bahkan kau bertanya padaku, “Kau siapa?”
Kau tahu? Betapa sakitnya hatiku ketika tahu kau begitu mudahnya melupakan aku. Betapa hancurnya aku saat pertanyaan itu meluncur dari mulutmu. Betapa seringnya aku dijatuhkan dalam jurang yang dalam karena tatapan matamu yang merasa asing padaku. Tapi seberapa pun sakitnya aku, kau masih lebih sakit. Melupakan orang yang kau cintai adalah hal yang paling menyakitkan meski kau sendiri tak merasakannya, aku tahu itu. Jadi aku berusaha untuk bangkit  dan tetap tersenyum untuk menjadi penopangmu meski kau tak kenal padaku lagi.
Creutzfeldt-Jakob, nama penyakitmu yang sebenarnya. Perubahan sikap, halusinasi, dan ataksia hanya awal dari penyakit mematikan yang kau derita. Penyakit yang disebabkan oleh prion;  penyebab penyakit yang hanya terdiri dari protein yang menyerang sistem syaraf pusat. Dokter bilang penyakit ini jarang sekali ditemukan bahkan perbandingannya 1:1000.000 dan dulu hanya menjangkiti orang tua. Tapi sekarang beda. Penyakit ini juga bisa menyerang anak muda sepertimu.
Tapi dari jutaan manusia itu, kenapa harus kau yang menderita karena penyakit ini. Kenapa harus kau yang merasakan sakit. Orang bilang Tuhan memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengatasinya. Lalu apa kau cukup tangguh untuk melawan penyakitmu? Apa kau sanggup menanggungnya dengan tubuh mungilmu? Seandainya aku bisa, aku ingin sekali menggantikanmu.
*****

Kali ini air mataku benar-benar tak terbendung. Memutar memori pada hari-hari menyakitkan dan sepi itu membuatku menjadi laki-laki tak berdaya. Aku semakin erat menggenggam tangannya, semakin sering mengelus rambutnya dan berkali-kali membisikannya kata cinta, berharap ia bangun dengan hal itu.
Dokter bilang dia hanya bisa bertahan empat bulan. Tapi satu setengah tahun sudah berlalu dan jiwanya masih menyangkut pada raganya. Dokter itu salah dan kurasa Tuhan memang memberikan cobaan pada orang yang tepat. Meski dengan tubuh kecilnya itu, ia bisa bertahan selama ini. Maka dari itu, aku menunggu keajaiban saat ia membuka mata dan berkata, “Aku sayang kamu, Gie.”
“Eve, bangunlah.  Ayo kita ke taman bermain lagi. Aku janji nggak akan mengajakmu ke rumah hantu lagi. Aku tahu, kau nggak suka,” bisikku dalam isak tangis. “Eve…”
Kurasakan jemarinya bergerak menggenggam tanganku. Aku melirik melihat wajahnya. Napasnya terdengar berat dan pendek. Aku berharap ia segera membuka mata.
“Eve… Eve…. Eve, bangun, Eve…”
Pada akhirnya semakin lama napasnya semakin ringan hingga kurasakan tak ada udara yang keluar dari paru-parunya. Tangannya yang menggenggam tanganku perlahan mulai lepas dan lunglai. Kulihat setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya tapi sebuah senyum kecil terpampang di wajahnya.  Ia tidur dan tak mungkin untuk membuka mata lagi.
Air mataku semakin tak terbendung.  Aku masih menggenggam tangannya yang tanpa denyut nadi itu dengan erat. Aku diam, hanya tenggelam daam kesedihanku. Kali ini aku benar-benar jatuh karena satu sayapku telah lenyap.
Eve, apa kau begitu menderitanya hingga memilih untuk meninggalkanku sendirian di sini? Apa kau sekarang bahagia? Kurasa ya dari senyum yang tersungging di wajahmu untuk terakhir kalinya. Kalau memang begitu, aku merelakanmu. Selamat tinggal, Eve. I always love you until I die.
*****

- Epilog -
Aku merasa asing. Bahkan dengan orang di sekitarku pun aku tak kenal. Mereka bilang aku hilang ingatan karena penyakit yang kuidap. Penyakit itu membuat daya ingatku semakin lama semakin menurun hingga aku melupakan segalanya. Entah mereka bohong atau tidak, tapi mereka merawatku dengan penuh kasih sayang.
Lalu lambat laun tempatku semakin berubah tak nyata. Aku jatuh dalam halusinasiku semakin dalam hingga pada akhirnya aku hanya diam saja menerima dunia halusinasi itu. Bahkan aku tak mengerti mana yang nyata dan mana ilusiku. Tapi satu hal yang kutahu, suara yang selalu mendongengkanku tentang masa lalu adalah sesuatu yang paling nyata di duniaku.
Suara laki-laki itu begitu indah saat menceritakan masa lalunya bersamaku. Kadang terdengar begitu senang tapi kadang aku bisa merasakan kesedihannya dari suara yang kadang berubah lirih.
Lalu pada saat akhirnya aku sama sekali tak bisa bergerak dari tempat tidur, aku mendengar suara tangisnya. Lirih seakan-akan jika tidak kuraih, ia akan hancur. Jadi kuusahakan menggenggam tangannya. Aku jatuh cinta padanya di akhir hidupku. Mungkin untuk kedua kalinya. Kuharap ia tidak akan hancur karena aku telah meraih tangannya, berusaha membuatnya tetap berdiri tegap.
Kuucapkan untuk terakhirnya meski kau tak mendengar. “Aku sayang kamu…, Gie.”

“Goodbye sun shine
Take care of yourself
I have to go, I have to go
And leave you alone
But always know, always know
That I love you so”

         - Avril Lavigne: Goodbye -

0 comments on "Remember When"

Post a Comment

 

THIS IS THE STORY OF ME :) Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea